Andalan

BERKENALAN DENGAN SE-SERUPUT KOPI

“Mengenalnya saja telah menjadi candu akan rasa, aroma, dan keindahan tanah tancapnya. Ada hasrat ingin bernostalgia dengan se-seruput cita rasa-nya, di tempat yang masih tersimpan rapi, dalam cerita”

19 Oktober 2018

Liputan perdana dari sebuah media yang sempat melejit, tentu membuat jantung saya dag dig dug. Berbagai persiapan mental maupun materi saya persiapkan bersama dengan salah satu rekan saya, Dwi Dian. Meski ruwet dengan tugas kuliah dan urusan proposal magang yang cukup membuat saya gupuh kesana kemari, namun jujur kali ini saya begitu bersemangat meski dengan perasaan campur aduk.

Karena yang saya liput adalah sebuah event, sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh panitia, saya dan rekan saya harus melakukan konfirmasi kehadiran dengan mengatasnamakan media. Beruntunglah, panitia yang saya hubungi juga seorang jurnalis, sehingga mengerti apa yang saya butuhkan sebelum dan ketika liputan. Beliau kami sapa dengan panggilan “Mas Din”.

Usai tergopoh-gopoh kesana kemari dengan beberapa tugas dan pengajuan ke tempat magang, sekitar jam 4 sore, saya dan mbak Dwi Dian meluncur ke Kota Bung Karno. Tepat ketika adzan maghrib berkumandang, akhirnya sampai di kediaman orang tua saya. Tentu saja, mereka menyambut dengan hidangan yang membuat saya lega. Usai menunaikan sholat maghrib dan isya’, makan, dan beristirahat sejenak, kami segera meluncur ke lokasi. Tak lupa, kami membawa oleh-oleh untuk orang yang rumahnya akan menjadi tempat menginap kami malam ini.

KOMODITI KOPI DI PINUS

PINUS (Pendopo Islam Nusantara) yang berlokasi di Desa Sekardangan Kecamatan Kanigoro. Sekitar 45 menit dari rumah. Tempat ini tergolong masih baru, terlihat dari bangunannya.

Dari kejauhan terlihat beberapa laki-laki paruh baya mengenakan baju koko lengkap dengan sarung dan peci. Kami segera mendekat dan bertanya. Mereka segera mempersilahkan kami masuk kemudian berkata “saya juga pengunjung mbak”. Saya sedikit terkekeh. Baik, dengan sedikit ragu saya dan Dwi Dian segera melangkahkan kaki.

Dengan ID Card yang kami kenakan, serta kamera prosumer yang tertenteng di pundak kiri saya, seseorang segera mengenali kami. Beliau tak lain adalah Mas Din yang saya hubungi kemarin.

“halo mbak,” sambutnya.

Saya menerima sambutannya dengan perasaan lega. Kami meminta penjelasan sedikit tentang acara tersebut. Ia segera bercerita singkat dan menunjuk ke arah meja yang tepat berada di tengah. Ternyata disana terdapat 2 narasumber yang telah hadir, yakni Bapak Andi Yuwono Katib selaku Founder ASIDEWI (Asosiasi Desa Wisata) dan mbak Anggria Ermarini selaku Ketua Fatayat Pusat. Tanpa basa-basi, Mas Din segera menawari kami untuk dikenalkan dengan beliau-beliau. Tentu saja, kami tak mau menolak.

Jika boleh berkata jujur, saya dan Dwi Dian sama sekali belum tau jika mbak Anggria menjadi salah satu narasumbernya. Sehingga saya benar-benar shock bisa duduk satu meja dengan beliau. Sementara dengan Bapak Andi, saya dapat mengenalinya.

Di meja itu, kami berusaha larut dalam perbincangan. Sesuai dengan temanya, tentu perbincangannya adalah tentang kopi. “kalau saya itu suka yang Arabica mbak daripada robusta” ucap mbak Anggria. Sayang sekali, saya belum pernah mengenal bagaimana rasa kopi Arabica dan Robusta.

Selain mbak Anggria dan Pak Andi, narasumber lain yang dihadirkan adalah Gus Dhofir yang akan membahas hukum kopi berdasarkan kitab Irsyad al-Ihwan karangan Syeikh Ihsan Jampes dan Pak Farhan selaku penikmat kopi. Acara ini juga dihadiri oleh beberapa aktifis politik, seperti Bu Irma dan Cak Din. Namun tentu saja tak untuk kampanye, melainkan turut memberikan argumentasi mengenai potensi komoditi kopi.

Acara ini memaparkan bahwa budaya kopi merupakan kebiasaan yang amat sangat dekat dengan pesantren. Budaya ngopi dilakukan karena dengan ngopi, maka santri bisa tetap terjaga sehingga bisa mempelajari kitab kuning terutama dimalam hari. Selain itu, ngopi sudah menjadi lifestyle bagi kebanyakan orang, terutama anak muda. Bahkan di kalangan mahasiswa, untuk mengerjakan satu tugas-pun perlu secangkir kopi. Oleh karena itu, hukum mengonsumsi kopi perlu diketahui. Menurut Gus Dhofir, terdapat 2 alasam utama Syeikh Ihsan Jampes mengarang kitab Irsyad al-Ihwan, yaitu karena adanya perubahan kultural dan struktural, serta alasan ekonimis.

Selain dibahas hukumnya, kopi disini juga dibahas dari segi bisnis. Tentu, kopi Blitar memiliki potensi yang sangat besar baik secara tensible maupun atractional. Tensible berarti penjualan produknya secara langsung seperti di kedai-kedai kopi. Sedangkan Atractiolan artinya kopi sebagai wisata. Pembahasan ini yang cukup membuat saya begitu tertarik. Seperti yang dikatakan oleh Pak Andi, salah satu icon wisata yang menawarkan kopi adalah khas-nya. Wae Rebo, “negeri di atas awan” begitulah orang-orang menyebutnya. Desa di atas gunung ini menawarkan pengunjungnya untuk menikmati kopi Wae Rebo di bawah Niang (rumah adat Wae Rebo). Tentu saja pengunjung begitu tertarik untuk menikmati kopi di tengah suasana yang begitu eksotis ini, meski harus banyak merogoh kantong untuk perjalanan.

Kopi Doko di Blitar, memiliki sisi history yang cukup mengena, yaitu tentang pembebasan tanah seluas 250 hektar yang sebenarnya menjadi hak milik masyarakat. Jika dikemas lebih cantik lagi, tentu komoditi kopi disini dapat dikembangkan sebagai wisata pula. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jika dilihat dari sudut pandang wisatanya, komoditi menjadi daya dukung yang sangat besar bagi pengembangan suatu wisata.

MENGENAL BARISTA BESERTA KOPINYA

Mengenal, bukan berarti saya tahu namanya. Karena saya hanya berkenalan dengan kopinya. Terdapat komunitas pecinta kopi yang siap menyajikan kopi dengan kualitas terbaik. Namun saya dan rekan saya justru banyak menghabiskan waktu untuk berbincang dengan owner Kopi Senyawa Blitar. Berbeda dengan komunitas kopi di sebelah yang menyajikan kopi dari biji kopi Tulungagung, kopi Senyawa mengambil biji kopi terbaik dari mana saja. Sang Owner belajar tentang kopi secara otodidak, dan melakukan riset di Malang. “Hemm…” batin saya. Katanya di Malang ada barista terbaik se-Indonesia, dan saya tidak tau. Namun saya memaklumi diri sendiri karena saya belum menjadi pecinta kopi. Mungkin sebentar lagi saya akan penasaran dengan kopi, dan suatu saat akan menjadi pecinta kopi.

Disana saya dipersilahkan untuk menyeruput berbagai macam kopi, Arabica dan Robusta tentunya, Espresso, dan apalah lagi. Yang jelas lidah saya sudah bisa mengecap rasa dari kopi tersebut. Namun lidah saya masih asing sehingga ketika menyeruput, saya mengernyitkan wajah. Orang yang ada disana tertawa melihat ekspresi saya.

Dari perbincangan yang terjadi hingga jam 1 malam, saya jadi tahu bahwa jenis biji kopi yang sama ketika ditanam di dataran yang berbeda maka akan memiliki rasa yang berbeda. Selain  itu, terdapat pula teknik pengupasan biji kopi sebelum disangrai. Tentu hal ini juga berpengaruh terhadap rasa kopi. Untuk teknik penyeduhan kopi, pasti menjadi hal yang dikuasai oleh sang barista. Saya cukup tertarik dengan mesin-mesin kopi yang digunakan. Salah satu teknik filtrasi yang digunakan persis sama seperti filtrasi yang saya lakukan di laboratorium kimia, yakni menggunakan corong dan kertas saring. Selain itu saya juga melihat beberapa erlenmeyer di atas meja barista.

“supaya nggak menyebabkan asam lambung, kalau minum kopi gulanya terpisah mbak” kata salah seorang pecinta kopi yang sedang berbincang dengan kami, Pak Abim.

“saya aja dulu waktu sakit asam lambung setelah rutin minum kopi malah sembuh lo” ucap istri Pak Abim yang sedang menggendong putra lucunya.

Mereka menjelaskan bahwa kopi memiliki penawar bagi kadar asam yang terkandung di dalamnya. Saya kembali teringat dengan buah semangka. Disamping terdapat kandungan glukosa yang terdapat dalam buahnya yang berwarna merah, juga terdapat penawarnya di bagian yang berwarna putih. Sehingga apabila mengonsumsi daging semangka yang berwarna merah sekaligus putih maka akan terhindar dari diabetes. Kopi terakhir yang saya rasakan adalah Kopi Luwak dari Gunung Raung. Hemm,,, Seperti sebelumnya, wajah saya mengernyit makin parah. Mbak Dwi juga sama. Awalnya ia enggan menyeruputnya karena mengaku tidak suka kopi. Namun pada akhirnya ia cicipi juga. Awalnya istri Pak Abim sempat mengira bahwa kami enggan meminumnya karena proses biologi-nya di dalam tubuh luwak. Namun saya segera menjelaskan bahwa proses tersebut tergolong higienis, karena biji kopi tidak mengalami proses mekanik apapun di dalam tubuh luwak.

Malam itu hingga jam 1 malam, benar-benar menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya. Kopi, yang semula membuat saya tidak peduli dengan cita rasa dan lifestyle yang ditularkan, kini berhasil menjadi candu untuk terus mengecap dan mengingat kenikmatan yang tertumbuk.

Iklan
Andalan

Jabal, Surganya Mata Air (PART 2)

Tepat pukul 3.00 dini hari mata saya terbuka. Dari dalam tenda saya membuka resleting penutup tenda dan menengok keadaan di luar. Hemm, gemuruh suara orang-orang semakin terdengar. Rupanya mereka sudah bangun. Tepat di depan tenda saya, seseorang menghangatkan badan di depan sisa api unggun semalam. Entah siapa dia, yang jelas ia adalah salah satu dari 3 orang yang tiba di Jabal setelah kami. Saya memutuskan untuk menghangatkan badan di sisa api unggun itu juga. Akhirnya saya segera merapatkan jaket, memasang sarung tangan serta slayer sebagai penutup hidung dan berangkat. “huhhh dingin” ucap saya pada seseorang di samping saya. Dinginnya pagi membuat otot kaku untuk diajak bergerak. Bicara-pun juga malas. Namun mata saya masih saja meraba pemandangan dari atas bukit yang masih tersembunyi di balik kabut.

Rasa dingin saya berkurang berkat coklat panas buatan teman-teman. Sambil menikmati pemandangan pagi, rasanya nikmat sekali. Langit di depan saya sudah mulai memerah, tandanya fajar sudah mulai tiba. Jadi, saya harus bersiap-siap untuk sholat. Di Bukit Jabal terdapat pipa aliran air dari sumber air puncak gunung gunung. Sehingga untuk berwudlu, tak perlu khawatir kekurangan air. Cukup mengambil air satu botol besar, anda sudah bisa berwudlu.

Bicara masalah air, hal ini berbeda dengan pengalaman saya ketika ke kelud. Saya dan teman-teman memutuskan untuk membawa cadangan air satu botol ukuran 600 mL khusus untuk berwudlu. Jika hendak digunakan untuk berwudlu, maka tutupnya diberi lubang kecil. Hal sederhana seperti ini tentu harus diketahui oleh teman-teman yang beragama Islam. Apabila airnya hanya cukup untuk minum saja, maka wudlu bisa diganti dengan tayamum.

Saya sholat di dalam tenda saya. Karena tenda hanya ditinggali oleh saya sendiri, tenda tidak penuh oleh barang-barang. Jadi teman-teman juga melaksanakan sholat disana bergantian. Begitu pula dengan 3 orang teman dari rombongan yang datang setelah kami. Meski tidak dalam satu rombongan, namun teman-teman disini tidak enggan untuk berbagi. Bahkan teman-teman yang putra juga bersedia berbagi tenda dengan mereka karena kebetulan tidak membawa tenda. Saya kembali teringat kalimat bahwa di atas gunung, jiwa sosial sangat teruji.

SUNRISE

Sambil menunggu sunrise, makan mie instan adalah hal yang sangat nikmat. Tentu tak sendirian, saya ditemani oleh teman-teman yang lain. Sambil bercengkrama ringan, suasana ramai saat itu. Suguhan view di depan mata saya semakin memanjakan mata.

Teringat kembali tentang kamera prosumer kesayangan saya. Saya lupa membawa memory card-nya. Alhasil, kamera saya nganggur tidak bisa digunakan untuk memotret. Akhirnya, saya dipinjami kamera digital oleh salah seorang teman. Hemm, hasilnya, lumayan. Setidaknya bisa mengurangi perasaan haus saya untuk memotret view indah di Jabal. Kamera phonecell teman-teman yang kian bagus, tentu tak boleh dilewatkan untuk mengambil pose kece kami.

Ketika sunrise tiba, spontan saya berdiri dan berlari menuju posisi yang pas. Sunrise hari itu tentu hanya terjadi beberapa menit saja. Sehingga saya berupaya untuk mengabadikan moment sebanyak-banyaknya dari semua angle. Lautan awan membuat saya merasa berada di posisi yang sangat tinggi. Namun kenyataannya ini masih belum ada setengahnya. Konon, perjalanan menuju puncak gunung ini masih membutuhkan waktu normal sekitar 3 jam dengan track yang lebih menanjak dan extreem. Sayang sekali, logistik dan waktu yang kami siapkan hanya cukup untuk tiba di puncak Jabal saja.

Pagi itu kami beruntung. Ketika sunrise, kabut tebal yang berkali-kali menutupi pandangan kami sudah terbuka. Terdapat dua jajaran gunung di samping tempat saya berdiri, salah satunya Gunung Butak. Di depan terlihat jelas puncak Mahameru yang lerengnya tertutup oleh awan. Mata saya tentu saja termanjakan.

Tradisi yang selalu dilakukan oleh teman-teman daerah adalah mengibarkan bendera merah putih di atas pohon yang tinggi kemudian melantunkan Lagu Indonesia Raya bersama-sama. Bendera merah putih sudah dikibarkan dari atas ketinggian sejak subuh. Kami-pun berjejer kemudian menyampaikan kehormatan kepada Sang Merah Putih secara simbolik. Saya sangat terkesan dengan moment tersebut.  Selain semangat pemuda Karang Taruna Sumberbendo dalam memelihara kekayaan alam-nya yang totalitas, cinta tanah airnya juga totalitas. Hal positif tersebut telah berhasil diturunkan  dari kakak-kakak yang lebih tua ke adik-adik mereka.

COBA-COBA JALUR PUNCAK

IMG-20180911-WA0017

Pagi semakin mendekati siang. Saya sedikit berbincang dengan salah satu dari rombongan yang terdiri dari 3 orang tersebut. Pada akhirnya, beliau sempat memberi tawaran saya untuk muncak ke Mahameru. Wow, suatu kehormatan. Bagi pemula seperti saya, tentu ada keraguan. Namun saya tak bisa menolak tawaran tersebut. Kami hanya bercengkrama sejenak karena beliau sudah ditunggu oleh 2 orang temannya untuk bergegas turun. Setelah mengucap terimakasih, saya dan teman-teman bergegas melanjutkan perjalanan untuk mencoba jalur menuju puncak. Dengan membawa bekal air secukupnya, saya dan beberapa saja yang naik. Kebanyakan teman-teman sudah letih, sehingga memutuskan untuk istirahat di tenda saja.

Track sejak pertama berjalan berupa semak-semak yang belum 100% terbuka. Saya dan teman-teman harus memperkirakan jalan mana yang harus dilalui. Semak-semak yang lebat menggores pipi. Akhirnya saya segera memasang slayer. Di perjalanan, saya sudah bisa melihat lereng-lereng yang luar biasa. Disana terlihat jalur panjang yang entah arahnya kemana.

Sekitar 50 menit berjalan, kami memutuskan untuk berhenti. Kami tak lupa untuk mengabadikan beberapa foto saat itu. Konon, di dekat kami berfoto terdapat tempat luas yang mirip sabana. Sayang sekali, terik panas membuat tenaga kami cepat sekali terkuras. Akhirnya, kami sepakat untuk kembali ke Jabal.

 

Sekali lagi, track yang kami lalui belum terbuka 100%. Ada hal yang sedikit mengganjal. Kami sempat salah jalur. Untung saja ada seorang teman yang menyusul dari Jabal, dan sadar kalau suara kami semakin menjauh. Tandanya, kami salah jalur. Ia segera mengingatkan dengan berteriak. Dengan berbekal suara, kami mencari posisinya. Tentu, semak-semak tebal harus dilalui untuk mencari jalan pintas.

IMG-20180911-WA0031
Semak-semak tebal di sepanjang jalur

VEGETASI DAN JERUK SEGAR LERENG GUNUNG

Sebagian dari rombongan kami sudah turun terlebih dahulu. Kami juga segera menyusul. Perjalanan turun gunung tentu berbeda dengan perjalanan naik. Jika naik, yang terasa paling lelah adalah telapak kaki. Namun untuk perjalanan turun, lutut-lah yang cukup terasa capeknya. Saya memutuskan untuk berjalan di posisi paling depan untuk menikmati jalur yang telah saya lalui semalam. Karena siang hari, saya bisa mengamati berbagai tumbuhan yang ada di sepanjang jalur. Vegetasi di jalur tersebut terdiri dari tumbuh-tumbuhan kering yang mudah sekali terbakar. Sehingga tak heran apabila pendaki Bukit Jabal hanya boleh membuat api unggun kecil dan setelahnya harus memastikan bahwa bekas api unggun yang sudah padam tidak beresiko menimbulkan kebakaran hutan.

Terdapat hutan pinus yang letaknya dekat dengan perkebunan jeruk milik warga. Hutan itu menjadi satu-satunya tempat paling teduh sepanjang jalur. Tak heran apabila tempat tersebut selalu digunakan untuk beristirahat baik ketika perjalanan naik maupun turun. Saya-pun juga sejenak melepas lelah disana.

Karena saya melakukan pendakian dengan teman-teman asli daerah Sumberbendo, tentu saya diberi kesempatan mencicipi jeruk segar yang baru saja dipetik dari kebun. Hemm, nikmat sekali. Rasa jeruknya tidak ada yang masam. Bahkan jeruk yang tidak manis sekali-pun masih terasa nikmat karena kandungan airnya banyak, sehingga berhasil melepas dahaga saya.

Karang Taruna sumberbendo memiliki jadwal rutin pendakian. Visinya adalah memastikan bahwa jalur menuju Bukit Jabal tetap dalam keadaan bersih dan aman untuk para pendaki. Bagi teman-teman yang ingin mencoba pendakian ke Bukit Jabal, anda boleh ikut Pendakian Tahun Baru. Untuk pendakian diwaktu yang lain, bisa langsung dipandu oleh teman-teman Karang Taruna Sumberbendo. Pendakian ke Bukit Jabal cocok sekali untuk pemula, jadi jangan ragu. Dengan persiapan fisik dan perbekalan cukup, maka anda berhak menikmati pendakian seperti saya.

Salam Lestari, dan selamat mencoba.

IMG-20180911-WA0018

 

Andalan

JABAL, SURGANYA MATA AIR (PART 1)

Sebagian warga Malang mungkin masih asing dengan tempat yang satu ini, yakni Bukit Jabal. Bukan Jabal Rohmah yang penuh gurun itu loh ya. Dataran tinggi ini berada dalam satu rangkaian dengan gunung Butak. Siapa sangka, Sabtu tanggal 1 September kemarin saya berkesempatan mengunjungi tempat indah di balik Gunung Butak ini. Tentu tak sendiri, namun ditemani oleh adik-adik warga sekitar Dusun Sumberbendo, Desa Kucur, Kab. Malang.

Kami memulai perjalanan dari Dusun Sumberbendo pada pukul 16.15. Saat itu tiba-tiba cuaca mendung. Gerimis mengguyur disaat semua sudah ready untuk berangkat. Hal itu membuat saya spontan mengingatkan adik-adik untuk membawa mantle. Mantle menjadi hal wajib ketika melakukan pendakian, termasuk pendakian singkat seperti yang saya lakukan saat ini.

Mantle memiliki beberapa fungsi ketika sedang berkemah. Selain dikenakan ketika hujan, mantle bisa dipakai untuk alas, baik di luar tenda maupun di dalam tenda. Ketika camping, biasanya saya enggan untuk memabawa matras. Selain bebannya yang lebih berat, matras juga cukup memakan tempat di dalam ransel. Meski diletakkan di luar ransel, ukuran gulungan matras yang cukup lebar membuat kita kesulitan ketika melewati jalur sempit. Namun bagi anda yang kurang nyaman apabila tak menggunakan matras, boleh kok tetap membawanya.

TANJAKAN 45°

Beberapa menit melakukan perjalanan, pemandangan yang terlihat adalah ladang milik petani sekitar. Tanaman yang paling dominan adalah jeruk. Jeruk menjadi aset utama daerah tersebut. Beruntunglah, lahan yang terbilang sangat potensial dan luas itu masih dimiliki dan diolah secara mandiri oleh warga.

Track menuju Bukit Jabal tak terlalu extreme, namun cukup menguras tenaga. Bagaimana tidak. Setelah berjalan hampir 1 jam, jalur yang harus dilalui berupa tanjakan yang sudutnya +45°. Tak ada turunan, pun tempat datar. Track semacam ini membuat kaki yang tak terbiasa menjadi sangat lelah, bahkan kram. Alhasil kami sering istirahat, meskipun masih berada di tanjakan.

Semakin lama melangkahkan kaki, hari semakin gelap. Jalan juga semakin sempit. Tibalah kami di jalan setapak dengan lorong-lorong yang berupa ranting kering. Salah satu diantara kami ada yang pelipisnya sedikit luka karena tersangkut ranting. Untung saja tidak terlalu parah.

Untuk menuju puncak Jabal, hanya ada 1 pos. Selebihnya adalah tanjakan yang membuat tenaga cepat sekali terkuras. Perjalanan malam dan semak-semak lebat membuat saya hampir tak sadar bahwa di sebelah kiri saya adalah jurang. Tanjakan yang terbilang curam membuat kaki saya harus menapak kuat agar tidak tergelincir.

Di bawah jalan yang kami lalui terdapat rangkaian pipa air. Sesekali riuh suara alirannya memecah hening perjalanan ketika semua sedang lelah untuk mengungkapkan candaannya. Sesekali pula pipa yang muncul di permukaan membuat kami harus berhati-hati agar tidak tergelincir.

Puncak gunung tempat saya mendaki memiliki sumber air. Dari sumber air inilah warga Dusun Sumberbendo memasang saluran menggunakan pipa untuk dialirkan hingga ke pemukiman warga. Itulah sebabnya, saya menyebut Jabal sebagai surganya mata air. karena kita benar-benar bisa merasakan sumber air gunung di atas Jabal. Namun di samping itu, saya takjub kepada warga yang menemukan pun yang memasang saluran air, karena track menuju puncak bukan jalur yang mudah. Butuh tenaga yang luar biasa, apalagi dengan membawa perlengkapan untuk memasang saluran air. Saya saja yang hanya membawa perlengkapan pribadi, sudah merasa lelah sekali. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Untung saja, ada yang meneriakkan kalimat penyemangat.

“Ayo semangat, pos 1 sudah dekat”

atau

“Sebentar lagi sampai puncak”

Kalimat itu tak jarang terlontar dari mereka yang sudah beberapa kali berkunjung ke Bukit Jabal. Sebagai orang-orang yang baru pertama kali kesana, mungkin hanya bisa percaya dan menguatkan kaki kembali. Saya hanya menjawab “semangat yokkk…” meski saya-pun sudah tahu bahwa tempat yang dituju masih lumayan jauh.

Bukit Jabal ini dikelola langsung oleh teman-teman Karang Taruna dari Sumberbendo. Terdapat jadwal untuk melakukan patroli ke atas gunung. Selain itu, teman-teman Karang Taruna juga menyediakan perlengkapan pendakian yang dapat disewa dengan harga murah. Selain itu, menyediakan layanan pemandu pendakian ke Bukit Jabal bagi para pemula. Hemm, mantap sekali bukan.

MALAM DI CAMPING GROUND MIRING

Sekitar jam 8 malam, puncak Bukit Jabal berhasil kami capai. Akhirnya, ada tempat datar untuk beristirahat. Kabut malam lumayan tebal saat itu, sehingga saya sama sekali tidak bisa melihat apa-pun. Tak menunggu lama, adik-adik yang ikut dalam rombongan segera mencari tempat nyaman dan duduk secara bergerombol, sembari membuka bekal yang sedari tadi belum habis di perjalanan. Sedangkan saya dan beberapa anak segera mengeluarkan semua tenda kemudian mencari posisi yang pas untuk mendirikannya.

Cukup datar, namun tanah di sini tetap saja miring. Angin yang cukup kencang membuat tenda mudah sekali bergeser. Hal ini bisa membuat rangka tenda patah. Sayang sekali, pasak yang seharusnya dibawa ternyata tidak ada. Akhirnya, adik-adik yang kreatif menggunakan ranting kayu untuk menguatkan posisi tenda. 5 tenda berukuran medium berhasil kami dirikan. dengan posisi yang pas dan tidak memakan banyak tempat.

Setelah tenda berdiri, secara spontan semua orang segera mencari tenda ternyaman untuk merebahan badan. Sebagian menyiapkan kompor potable untuk menyeduh kopi. Beruntunglah, kami bisa mengambil air dari pipa untuk keperluan selama di puncak. Sedangkan saya, segera menyantap bekal yang sedari tadi berada di ransel merah kesayangan saya.

Malam di atas gunung selalu menyimpan keindahan tersendiri. Apalagi, setelah kabut hilang secara perlahan. Malang Raya terlihat memukau disini. Terlihat rangkaian lampu yang berbentuk hati. Namun yang membuat saya semakin terpukau adalah ketika saya merebahkan diri. Rasanya, langit dan bintang-bintangnya tepat berada di atas kepala saya.

Lereng gunung yang berada di sebelah kiri, serta puncak gunung yang berada di depan mata semakin jelas terlihat. Tepat pukul 10 malam, langit di balik gunung itu memancarkan sinar kemerahan. Nyaman sekali dipandang. Meski begitu, sunrise menjadi satu hal yang selalu ditunggu-tunggu. Oleh karena itu, saya harus segera memejamkan mata agar bisa bangun lebih pagi dan menyaksikan keindahan sunrise di Bukit Jabal.

Penasaran? Simak catatan perjalanan saya di Jabal Part 2 🙂 See You…

Andalan

Kelud, 5 cm yang Tak Terasa

Masih ingatkah anda dengan film 5 cm? Film yang mengisahkan tentang perjalanan mengejar 17 Agustus di puncak Mahameru. Mirip dengan pengalaman saya, meski jauh lebih sederhana. Ditahun 2018 ini, saya dan 4 orang kolega berkesempatan merayakan kemerdekaan RI yang ke 73 di puncak Kelud. Saya, mbak Suci, Fani, Syaikhu, dan Fahmi tepatnya mengikuti pendakian yang diadakan oleh salah satu komunitas pendaki di Blitar.

Sekitar pukul 22.30 pada tanggal 16 Agustus, rombongan menempuh perjalanan menggunakan motor menuju ke gerbang pendakian di Desa Karangrejo. Jalan berbatu membuat saya tidak bisa menyetir sendiri. Akhirnya, saya meminta salah satu teman untuk membonceng. Di perjalanan terdapat beberapa motor yang sempat terselip. Rupanya suasana gelap membuat kami tidak tahu sebelah mana jalan yang seharusnya dilewati.

Rombongan kami berangkat paling akhir. Melihat parkiran motor yang hampir penuh, saya menyimpulkan bahwa banyak pendaki yang telah mendahului sejak tadi pagi. Aku dan 4 kolegaku memang memutuskan untuk mengikuti pendakian malam, karena 3 diantara kami tidak berdomisili di Blitar dan tidak memungkinkan untuk datang sehari sebelum tanggal 16 Agustus.

Perjalanan menuju camping ground tidak memakan waktu lama. Cukup 2 jam saja. Ketika kami memulai perjalanan, 3 temanku yang putra ingin buang air kecil terlebih dahulu. Saya dan Suci terpaksa harus terus berjalan mengikuti rombongan, karena alasan perempuan. Alhasil 3 temanku itu sempat tersesat. Untunglah, mereka bisa menyusul setelah saya meminta tolong kepada sekelompok orang untuk menunggu sejenak.

“tadi temenku ketinggalan di belakang sebelum pertigaan”

“berapa orang? cewek atau cowok?”

“cowok kok, 3 orang”

Mereka terlihat sedikit lega. Setidaknya yang ketinggalan bukan perempuan dan tidak sendiri.

“oh iya, ditunggu aja. Santai santai…”

Khawatir, tapi juga sedikit lega karena ada orang yang bersedia membantu. Setelah beberapa saat, yang ditunggu akhirnya tiba dan bercerita sedikit bahwa mereka sempat tersesat. Maklum, tidak ada petunjuk apa-pun di pertigaan tadi.

Mengingat kejadian itu, di perjalanan saya sempat berfikir. Mungkin benar apa yang dikatakan orang. Di atas gunung nilai sosial-pun diuji. Baik kepada kawan sendiri maupun kepada orang yang tidak dikenal. Sebelumnya saya sempat meminta bantuan kepada orang lain. Namun dia tidak berinisiatif untuk ikut menunggu. Ia justru menyuruh saya dan Suci untuk berjalan di depan.

CAMPING GROUND TERBATAS, DAN API UNGGUN

DSC09345
Api unggun di depan tenda

Berangkat paling akhir, resikonya tidak dapat tempat untuk mendirikan tenda. Untung saja kami berlima membawa tenda kecil berkapasitas 2-3 orang, sehingga lebih memungkinkan didirikan dimana saja. Syaikhu memutuskan untuk mencari tempat di dekat camping ground pertama. Kebetulan terdapat jalan yang cukup lebar, sehingga pendirian tenda disana tidak memblokir jalan.

2 tenda kami didirikan saling berhadapan. Sedangkan tengahnya diberi api unggun kecil-kecilan. Api unggun seakan menjadi hal wajib ketika camping. Meski pada awalnya terdapat aturan untuk tidak membuat api unggun, namun negoisasi tetap bisa diandalkan.

Fani membuatkan energen panas, sedangkan yang lain sibuk menghabiskan camilan ringan yang sedari tadi memakan ruang di dalam ransel. Suasana semakin hangat dengan cengkrama ringan di depan perapian. Jujur, dalam suasana seperti itu saya enggan untuk tidur. Namun mengingat esok paginya harus menyiapkan stamina lebih, akhirnya saya bergegas masuk ke tenda dan memejamkan mata.

CINCHI, SUNRISE, DAN KERTAS

DSC09416
Saya dan Cinchi

Rencana mengejar sunrise di puncak memang datang dari semalam. Namun jelas, moment itu akan lewat begitu saja. Bagaimana tidak, pukul 5.00 dini hari baru terbangun dari tidur. Kami berlima harus segera bersiap-siap menunaikan Sholat Shubuh. Pukul 5.30 baru bisa memulai perjalanan kembali, sedangkan pagi sudah mulai terang.

Kami berlima meninggalkan barang bawaan di dalam tenda, kecuali makanan dan sebotol besar air mineral. Hal tersebut membuat saya tenang karena tidak akan kelaparan setelah mencapai puncak. Beberapa bungkus nasi kukus memang sengaja saya bawa dari rumah, karena dalam pendakian seperti itu butuh makanan yang mengenyangkan selain mie instan.

Dalam perjalanan menuju puncak, kami melewati beberapa camping ground. Salah satunya ramai oleh anak-anak usia SMP yang sedang bersiap-siap untuk berangkat. Saya pikir mereka berangkat bersama teman satu angkatan dan guru-guru mereka. Di tengah perjalanan pula saya bertemu dengan kawan SMA yang akrab disapa Cinchi. Maklum, wajahnya seperti Cina. Barangkali nenek moyangnya adalah orang Cina.

aku ngerti awakmu ket mau, tapi ndak iso nyeluk. Akhire tak enteni neng kene lah…

Saya tertawa, sambil memeluknya untuk melepas rindu usai 2 tahun tidak bertemu. Namun karena 4 kolegaku mengajak untuk melanjutkan perjalanan, akhirnya aku meninggalkan Cinchi bersama temannya yang lain.

Sekali lagi, dalam perjalanan menuju puncak, mbak Suci mengingatkan kertas yang digunakan untuk menulis pesan tertinggal di tenda. Namun masih ada cara lain kok.

PUNCAK, BERBATU DAN MELELAHKAN

DSC09417
Potret lelah

Tak hanya berpasir, tapi juga berbatu. Melelahkan memang. Kondisi fisik saya yang sedang terkena flu membuat stamina tak cukup. Untung saja ada teman yang bersedia untuk membantu saya hingga ke puncak.

Setelah tiba di puncak, terlihat seorang ibu sedang memberikan susu formula kepada anaknya yang masih balita. Jujur, saya sangat heran.

“adeknya umur berapa buk” tanya salah satu teman.

“umur 21 bulan”

Wah, belum genap 2 tahun.

“memangnya adeknya sudah diajak kemana aja buk?” tanyanya lagi.

“Banyak sih, ke Bromo. Tapi ini sejak usia 3 bulan udah saya ajak main ke gunung kok mas. Ke Sirah Kencong lah salah satunya”

Fani sempat memberikan sebungkus roti sisir kepada balita itu. Ia sama sekali tak terlihat kelelahan maupun ketakutan karena berada di tempat yang kondisinya jauh berbeda dengan rumah tempat tinggalnya.

DSC09434
Nasi kukus, sambal tomat, telur asin, dan pilus

Semua orang yang telah mencapai puncak sedang sibuk berfoto dan menikmati pemandangan. Aku dan 4 kolegaku memutuskan untuk membuka bekal kami di dekat sebuah tenda. Nikmat sekali rasanya. Kulihat arlojiku menunjukkan pukul 7.45. Setidaknya tak perlu terburu-buru, karena upacara 17 Agustus baru dimulai pada pukul 8.00.

UPACARA 17 AGUSTUS DI ATAS KELUD

DSC09458
Suasana ketika upacara

Puncak gunung berbeda dengan lapangan yang biasa digunakan untuk sepak bola maupun upacara. Namun peringatan 17 Agustus harus tetap dilaksanakan disana. Petugas upacara berasal dari panitia dan salah satu SMA alam yang ada di Blitar.

Untuk pertama kalinya, saya mengikuti upacara 17 Agustus di puncak gunung. Jika dibandingkan dengan upacara seperti biasanya, tentu ini kurang sakral. Namun upacara tetap berjalan dengan baik. Bendera merah putih dikibarkan di atas tiang yang dibuat secara instant.

Sebagai penduduk Indonesia, saya sedikit tersanjung. Upacara di atas kelud saat itu juga dihadiri oleh pendaki yang berasal dari Brunei Darussalam. Entah bagaimana ceritanya mereka bisa hadir, yang jelas itu menjadi salah satu hal yang patut diapresiasi.

TURUN ITU SEPERTI MOVE ON

DSC09476
Saya, ketika turun

Salah satu kelemahan saya adalah bisa naik ke atas ketinggian, namun takut untuk turun. Ditambah dengan medan yang sangat terjal dan harus menggunakan tali maupun tangga buatan. Bagi saya, turun dari atas ketinggian dengan posisi mundur merupakan hal yang cukup membuat badan saya gemetar. Namun, hal itu harus dilalui.

Lalu, bagaimana dengan anda yang memiliki pengalaman mendaki lebih banyak? 🙂 Tinggalkan komentar anda ya,,,

DSC09471
Fahmi

 

 

DSC09436
mbak Suci

IMG-20180822-WA0023[1]
Fani, Fahmi, Syaikhu, Mbak Suci, dan Saya
DSC09410DSC09430

Andalan

Turut Mengalir di Parangtejo

Kala itu, angin enggan berikan hangatnya. Tampaknya, ia sedang bersekutu dengan hal yang disebut suhu. Untung saja mentari masih berikan cuaca cerah sehingga tak khawatir hujan. Hanya ada sedikit awan yang tak patut disebut mendung.

Keindahan alam Indonesia tak ada habisnya. Jika dibicarakan satu persatu, maka waktu santai kita hanya habis untuk bercerita. Salah satu tempat indah yang patut dikunjungi adalah Coban Parangtejo. “parang” berarti tebing dan “tejo” artinya pelangi. Konon, sebelum jam 8 pagi terlihat pelangi yang meliputi air terjun. Tempat satu ini menjadi salah satu aset Kabupaten Malang. Lokasinya berada di Princi, Gading Kulon, Kucur, Dau, Malang.

Akses menuju destinasi wisata ini cukup mudah. Dapat ditempuh selama 47 menit dari alun-alun Kota Malang. Namun bagi anda yang tidak terbiasa dengan jalan menanjak, maka akan sedikit kesulitan. Sepanjang jalan, anda akan melewati wisata petik jeruk. Buah jeruk bergelantungan bak lampu, membuat anda ingin segera menikmatinya.

DSC09133Di foto ini terlihat spanduk gerbang pendakian Gunung Butak. Letaknya tepat sebelum memasuki loket wisata Coban Parangtejo. Sekilas terlihat sekelompok orang membawa carier besar yang hendak mendaki. Mereka singgah sejenak di tempat itu sembari menunggu waktu yang tepat untuk memulai perjalanan.

Jarak menuju coban Parangtejo tak jauh. Kurang lebih 700 m. Kira-kira dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki. Karena waktu itu udara sangat dingin, air benar-benar seperti air minum yang baru saja keluar dari lemari es. Saya memutuskan untuk berendam sejenak dan merasakan sensasi berendam di air es. Alhasil, badan benar-benar menggigil.

DSC09165

Supaya tak tanggung-tanggung untuk menikmati keindahannya, tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai spot foto. Tempat ini sangat cocok untuk anda yang sangat gemar ber-selfie. Hamparan bunga di Taman Peterpan membuat mata menjadi lebih segar.

Wahana favorit yang harus dicoba adalah ayunan maut. Tempatnya tepat di atas bukit  terbang. Bagi anda yang ingin menguji adrenalin di atas ketinggian, maka wajib mencobanya. Cukup dengan membayar 2000 rupiah, maka anda dapat bebas berpose layaknya melayang di atas bukit. Di puncak bukit terbang terdapat cafe forest. Anda dapat menikmati minuman hangat di tengah udara dingin, dengan suguhan view yang cukup memanjakan mata.

Setelah puas menikmati spot foto dan sensasi dingin air terjun, aku dan teman-teman segera menunaikan ibadah sholat dhuhur. Berendam membuat pakaian basah kuyup sedangkan saya tidak membawa baju ganti. Untung saja salah satu teman membawa sarung yang dapat digunakan untuk mengganti rok saya yang basah. Saya mengenakan sarung itu hingga pulang. Memang terlihat aneh, hingga beberapa orang sempat memperhatikan dengan tatapan yang aneh pula. Saya hanya sedikit cekikikan sendiri. Teman-teman juga sempat melontarkan lelucon akibat sarung itu.

Saya dan teman-teman menutup moment di sana dengan menyantap gorengan hangat. Sangat pas dengan cuaca yang dingin. Meski dengan santapan sederhana, namun cukup untuk menemani candaan dan perbincangan yang renyah. Coban Parangtejo, tempat yang menyuguhkan keindahan dan kedamaian. Hingga saya ikut mengalir bersama kesejukan dan kebersamaan bersama kolega.

DSC09202
Ayunan Maut
DSC09293
Puncak Bukit Terbang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Andalan

Seteguk Keunikan “Cowboy and Indian Camp”

DSC09015

“agaknya, dahaga saya telah hilang dengan seteguk keunikannya”

Hari itu cukup dingin, karena pagi masih saja meliputi. Usai seharian menjamu tamu di Kota Malang, tentu lelah harus dilepas terlebih dahulu dalam hening malam, celaka apabila kelelahan di jalan. Setibanya di Blitar, sejenak melepas penat dengan menikmati santap pagi di rumah kolega. Karena suasana lebaran belum juga berakhir, tentu jamuan telah tersedia di atas meja. Beberapa keping coklat kucicipi untuk menambah kalori dalam tubuh.

Haus semakin terasa seiring datangnya siang. Namun akhirnya terobati usai memasuki salah satu destinasi wisata terbaru di Kabupaten Blitar, yakni Cowboy and Indian Camp. Suara musik etnik semakin membuat bibir ingin tersenyum. Tempat yang berlokasi di Dusun Karanganyar Desa Modangan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar ini tentunya memberikan nuansa khas Suku Indian Amerika. Salah satunya adalah rumah adat Tepee yang sedikit dimodifikasi. Sekilas rumah adat ini berbentuk seperti tenda. Pada bentuk aslinya, rumah ini dilengkapi tutup yang dapat dibuka di bagian atas untuk mengeluarkan asap api unggun.

DSC09016Karena tak sabar ingin segera menyusuri jajaran Tepee, maka segera kulanjutkan langkahku menyusuri jalan setapaknya. Kunjungan tak lengkap bila tak menyimpan foto dengan ber-selfie tipis-tipis. Aku dan kolega menyewa “bulu perang” berwarna biru dengan tarif 5 ribu sebagai teman selfie di depan Tepee. Suku Indian mengumpulkan bulu-bulu dari berbagai jenis burung untuk berbagai keperluan, salah satunya untuk penghias kepala yang salah satunya diwujudkan dengan “bulu perang”.

DSC09040.JPG

Tempat wisata ini juga memberikan nuansa Cowboy dengan jajaran kereta yang biasa ditarik oleh sapi yang biasa disebut “cikar”. Tulang kepala sapi bertanduk sengaja dipajang sebagai ornamen. Disini kulihat dari kejauhan anak-anak kecil berlarian menuju cikar sambil membawa bulu perang berukuran kecil. Kemudian naik ke atas kendaraan tradisional itu dengan sangat gembira.

Hamparan bunga yang tersusun dengan rapi sangat cocok untuk menjadi background foto anda. Saat saya berjalan di sekitar taman bunga, terdapat dua orang sedang menikmati foto dengan mengenakan bulu perang. Tak mau kalah, aku bersama kolega-pun segera menyunggingkan senyum di depan kamera.

DSC08996

Ketika saya berkunjung tempat wisata ini belum dibuka secara resmi, namun telah berhasil menarik pengunjung untuk datang. Sebagian besar datang bersama dengan keluarga masing-masing sambil menikmati libur dalam suasana lebaran. Destinasi wisata ini memang sangat cocok untuk dikunjungi dengan keluarga. Selain aksesnya mudah, tempat ini cukup digemari oleh anak-anak. Hanya dengan merogoh sedikit isi saku, maka anda dapat menikmati dan mengabadikan moment bersama keluarga dengan background etnis Suku Indian.

DSC08984.JPGKelak tempat ini akan dilengkapi dengan kolam yang dapat anda nikmati kesejukan airnya.

 

 

DSC09055
saya dan kolega di dekat pintu masuk
DSC08991
reaksi spontan anak kecil yang melihat kamera usai berlari

 

Andalan

FENOMENA TERORISME SURABAYA 2018

“Peran wanita dalam keluarga teroris”

Sejak  hari Minggu (13/5) masyarakat ibu kota Jawa Timur digemparkan oleh teror bom yang terjadi di 3 gereja sekaligus, yakni Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indoensia (GKI), dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Terduga pelakunya adalah satu keluarga yang dipimpin oleh seorang ayah bernama Dita Oepriarto. Dita merupakan ketua JAD (Jamaah Ansharut Daulah) Surabaya. Berikutnya tersangka ledakan yang terjadi di Rusunawa Wonocolo dan Polrestabes Surabaya juga merupakan keluarga dimana kepala keluarganya merupakan anggota JAD.

Aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga merupakan fenomena baru. Sebelumnya, aksi ini dilakukan oleh individu terutama laki-laki. Pemerhati isu gender dan radikalisme, Ibu Lies Marcoes menyatakan bahwa pola yang berubah kali ini adalah peralihan dari laki-laki ke wanita. Menurut Direktur Rumah bersama ini pelibatan keluarga dalam aksi terorisme dapat dideteksi melalui perpindahan dari Indonesia ke Syuriah. Menurut Tito Karnavian, apabila aksi dilakukan oleh laki-laki memiliki potensi tinggi untuk dicurigai aparat.

Dapat dikatakan aksi bom bunuh diri kali ini merupakan aksi pertama yang melibatkan perempuan dan berhasil. Sebelumnya seorang wanita pelaku bom bunuh diri yang ingin menyerang istana negara berhasil dihentikan. Fenomena lain yang sangat berbeda dari sebelumnya adalah pelibatan anak dalam aksi yang disebut jihad. Hal ini menunjukkan bahwa wanita memiliki peran penting dalam menanamkan doktrin pada anak tentang radikalisme.

Pada tulisan Achmad Faizal dalam at Melborne (26 November 2015) “ Why do women joint radical groups”, dibahas tentang keterlibatan perempuan dalam kelompok teroris. Pertama, wanita berperan sebagai penerjemah langsung dari konsep jihad dalam teori dan diubah menjadi praktik. Teori jihad ini didapatkan dari pengajian kelompok-kelompok radikal. Jihad besar dilakukan dengan maju ke madan perang kemudian gugur sebagai syahid. Terdapat pemilahan gender dalam kelompok ini sehingga hanya kaum laki-laki yang pantas untuk melakukan jihad ini. Sedangkan kaum wanita memiliki kesempatan untuk melakukan jihad kecil yaitu dengan menyiapkan suami dan anak-anak mereka untuk maju ke medan tenpur. Selain itu, peran wanita untuk memiliki anak sebanyak-banyaknya terutama anak laki-laki juga termasuk jihad. Anak laki-laki diharapkan akan menjadi jundullah atau tentara Allah. Peran wanita yang ketiga, wanita berkorban, termasuk berkorban jiwa dan raga yakni suami dan anak laki-lakinya. Sikap ikhlas inilah yang menjadi idaman bagi wanita kaum radikal. Perempuan memiliki peran penting dalam keluarga, sehingga perempunlah yang memiliki peluang besar untuk melakukan jihad kecil dalam lingkup keluarga. Tentu, jihad semacam ini dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat fakta ini, wanita tidak lagi berperan sebagai pendukung, melainkan dapat dikatakan sebagai pelaku utama. Wanita yang juga memiliki peran ganda yakni sebagai istri dan ibu, dapat menguatkan suaminya dalam melancarkan aksi yang dianggap sebagai jihad, juga mendidik anak-anaknya untuk ikut dalam gerakan radikal melalui penanaman doktrin-doktrin dalam kehidupan sehari-hari

Berkaca pada kejadian bom Surabaya yang baru saja terjadi, anak-anak yang terlibat dalam aksi bom bunuh diri merupakan korban walaupun anak sebagai pelaku aktif aksi ini. Perbuatan anak yang menyimpang tentu dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan dan didikan orang tua yang salah. Pelibatan anak dalam tindak terorisme jelas bertentangan dengan Undang-undang perlindungan anak. Anak-anak tidak sepatutnya dilibatkan dalam tindak kekerasan apapun.

Fenomena ini dapat dijadikan pelajaran bagi para orang tua untuk senantiasa memberikan didikan yang tepat bagi anak.

Artikel ini telah terbit di http://www.mediasantrinu.com pada Sabtu, 19 Mei 2018

Andalan

Usai

Kamu adalah aku

Namun cukuplah aku yang fobia terhadap dirimu, dan tak mau lagi kuajak kau berjalan beriringan

Jarimu adalah jariku,

maka cukuplah kukuku yang pernah menoreh darah di kulitmu

Berbalik arahlah…

Pergilah, dan tuliskan apa-apa yang telah kau dengar

Sementara aku masih mencari jalanku sendiri

Andalan

Arang

Tak ada diam, karena suka cita membara bersama api

Namun lidah masih saja kelu, sekedar lemparkan kembali bumerang

Tak ada benci dan diskriminasi, karena nasip sama rata

Namun goda masih saja menghantam karena tak ada butuh

Ini kawan, bukan seorang dan kucingnya

Bukan pula patung dan orang asing yang berlalu lalang di pusat kota

Juga bukan budak, karena masih ada pilihan tuk hidup

Terkadang ego-pun tersembunyi di balik kesucian

dan muncul di tengah kelelahannya tuk sembunyi

Hujat meledak dari balik bibir merahnya

Seakan mata bening itu tak rela lihat rekahan sejenak

Juga dunia, telah tertampung dalam kotak kecil dalam genggaman

Palsu

Entah pantaskah itu, atau lebih hina lagi

Ah sudahlah…

Hanya Tuhan yang pantas hinakannya

Yang kutahu, api itu masih saja membara usai nafas terus berhembus

Entahlah, entah hingga masa apa

Mungkin hingga dirinya bosan,

atau memang sengaja ia membakar arangnya,

atau hingga kiamat tiba

Andalan

Cerita Singkat dan Drama

Setidaknya sempat memainkan peran yang menjejakkan kesan. Hal kecil saja, meski tak bisa dibilang sibuk jika dibandingkan dengan teman-teman lain. Yang terpenting adalah komitmen dan profesionalitas.

Bukan kaki saja yang lelah, otak ini selalu berputar memikirkan tugas kuliah yang tak kunjung selesai. Sementara rute masih jauh untuk dilalui dengan beralaskan sandal gunung.

Tentunya aku tak sendiri, yakni bersama dengan dua temanku mendampingi calon anggota baru. Meski medannya tak begitu terjal, namun udara malam cukup membuat badan terasa kelelahan. Buktinya ada beberapa peserta yang sakit. Yang paling parah adalah gadis mungil itu, tiba-tiba pingsan. Begitu ia terbangun nafasnya tersengal dan merasa kesakitan. Hingga akhirnya harus opname selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan seperti ini bukan untuk piknik, tetapi pengenalan, juga pemupukan serta pembiasaan. Banyak sekali aturan yang mengikat baik untuk peserta maupun untuk panitia. Sebagai pendamping, aku dan teman-teman satu sie adalah orang-orang yang seharusnya paling dekat dengan peserta. Sementara selama kegiatan, orang yang selalu membatasi mereka adalah “tatib”. Dari sinilah, ada drama untuk menguak emosi mereka. Tanpa banyak yang tau.

Tanpa terencana, aku tersentuh ketika mereka memelukku ditengah drama yang sedang dimainkan. Sementara sandiwara tiba-tiba hilang dan menjadi kenyataan. Ya, begitulah. Makna sebuah kegiatan.

Harapannya semoga semua bisa aktif dan tak bosan, meski kelak tanpa jabatan dan tanpa popularitas di dalamnya.

Sarapan

Sarapan bareng

23th-25th of Feb 2018

Andalan

Tim Kontrak

Ada rasa yang tertinggal, yakni rindu akan segala hal yang ada disini. Secuil cerita, dan kesan. Serta orang-orang baru dengan segala pengalaman serta ketelatenannya. Disini kami hanyalah pemula, dan ingin terus berlanjut mencuri pengalaman dari jiwa para insan dewasa.  Bawa moral serta berbenah-benah terhadap segala yang salah. Dan inilah wujud Bakti Bina Bangsa.

Begitulah potret tenda yang kutempati disana. Semua berperan aktif dalam mendirikannya dengan kokoh, termasuk anak-anak yang sedang bersemangat melakukan giat pagi. Tak lupa secarik jarik dibentangkan sekedar membatasi area depan yang berfungsi sebagai ruang tamu, dengan area belakang untuk menyimpan perlengkapan.

Usai membiarkan anak-anak menikmati santapan pagi, kami-pun tak mau ketinggalan. Perut selalu rewel apabila tak dimanjakan terlebih dahulu. Terlebih lagi melihat rundown yang memaksa kami untuk selalu fit. “ayo selfie dulu” kata Takul pagi itu. Laki-laki yang berpipi gembul itu rupanya sangat hobi ber-selfie. Bahkan, aku, sebagai anak perempuan, dikalahkan oleh semangatnya yang ingin selalu membuat jejak dalam setiap moment penting. Kurasa nanti ketika ia dewasa, akan ada banyak koleksi album yang dimilikinya. Lalu anaknya, yang juga memiliki pipi gembul akan banyak bertanya perihal foto-foto dalam album-album ayahnya itu.

Setelah mendengar tawaran untuk ber-selfie, tentunya aku dan Naili tak akan menolak. Cekrekkk….jadi. Terlihat, gadis imut itu mengembangkan senyum khas-nya sambil memegang gelas minum kesayangan yang selalu dibawa kemana-mana. Termasuk ketika terdampar disini akibat dari ajakanku beberapa hari lalu. Jika dilihat, Naili ini memang terlihat jauh lebih muda dari aku dan Takul. Sampai-sampai ada orang yang mengira bahwa ia masih SMP. Namun percayalah. Kami adalah sebaya.

Berbicara tentang tiga orang yang ada di dalam foto itu, kami adalah tim. Bisa dibilang Tim Kontrak. Masa kontraknya hanya 2 hari. Namun kami telah mengenal satu sama lain sejak beberapa hari yang lalu berkat persiapan yang tentu dilakukan. Meski begitu, tak terlihat ada keganjalan apa-pun. Kami tetap bekerja selayaknya tim dalam mendampingi anak-anak yang sedang memiliki kegiatan.

TIM NGGAK LENGKAP, GARA-GARA JADI MABA

Istilah “maba” mungkin tak asing di telinga kalian, merupakan kependekan dari “mahasiswa baru”. Takul. Status mahasiswa baru yang sedang disandang membuat ia harus rela mondar-mandir ke kampus untuk mengikuti serangkaian kegiatan untuk maba. Alhasil, tim putra yang seharusnya didampingi olehnya terpaksa dititipkan ke aku dan Naili. Meski tak ada batu-batu yang menghambat jalan, namun kaki tentu terasa pegal untuk mondar-mandir ke tenda putra, lalu kembali lagi ke tenda putri untuk sekedar melihat keadaan anak-anak dan mengingatkan mereka untuk bersiap-siap mengikuti giat selanjutnya. Ingin pergi ke homestay-pun seperti tak tega. Terpaksa mangkuk-mangkuk bekas nasi dan sayur terlambat dikembalikan.

Tik tok tik tok…. Setelah sekian kali jarum panjang pada arlojiku berdetak, akhirnya aku dan Naili segera berangkat ke homestay untuk mengembalikan mangkuk-mangkuk tadi, sekaligus bersih-bersih diri. Keputusan itu berkat usaha untuk percaya bahwa anak-anak bisa mandiri dan bekerjasama satu sama lain tanpa harus diawasi.

“wiiiihh…sudah seger” ketika kembali lagi ke buper. Kata itu dilontarkan oleh seorang Takul yang baru saja mengakhiri kegiatan dokumentasi. Rupanya ia telah kembali dan tak lupa dengan anak-anak yang selalu membutuhkannya.

PANITIA KECIL

Acara besar yang diselenggarakan oleh Kwarran itu, awalnya hanya diperuntukkan untuk tingkat Siaga. Namun tim guru dari Sekolah Menengah Bawah mengusulkan untuk bergabung dalam acara yang sama, namun dengan kepanitiaan yang berbeda. Baru kupahami usai berbincang sedikit dengan beberapa guru SD dan SMP yang duduk di sebelah.

Beberapa saat mendengarkan pemaparan dari panitia yang sebenarnya untuk mempersiapkan acara untuk siaga, akhirnya kami para pelatih dari tingkat penggalang izin keluar ruangan dan menyelenggarakan rapat sendiri.

“kak Juki” sapaku. Ya, aku bertemu dengan kawan se-UKM di kampus. Ternyata ia menjadi pelatih di salah satu MTs yang menjadi peserta. Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi tingkat kesopanan, maka kusalami dia. Kawan sesama pembina di sekolahnya adalah Kak Dila, ia telah berkenalan denganku sejak tadi dan sedang duduk anteng di sebelahku. Ibu dari satu anak itu (kalau tidak salah) terlihat amat bersemangat selayaknya anak muda seumuranku.

Kak Anam namanya sesorang yang tergolong kaum dewasa. Beliau segera membuka rapat berkat kesadarannya sebagai dewasa yang masih tergolong muda. Akhirnya, Kak Anam yang memimpin rapat dan terpilih menjadi Ketua dalam panitia kecil itu.

Diantara anggota yang dimasukkan dalam panitia itu, aku merasa menjadi anggota yang paling muda diantara yang lain.

MODUS DIBALIK API UNGGUN

Malam itu tak begitu romantis. Karena tak satupun diantara Aku, Takul, dan Naili yang ditemani pujaan masing-masing. Namun keharmonisan saat itu terbentuk akibat ulah anak-anak yang selalu mengumbar keseruan satu sama lain hingga menjangkit kami bertiga. Terdengar Kak Takul sedang digoda oleh beberapa anak di depan tenda putri. Dari kejauhan aku hanya bisa tertawa.

“ayo ikut aku” ucapnya. Dapat ditebak, ia mengajak aku dan teman imutku itu ke photoboot. Untuk apa? Ya berfoto ria. Saking asyiknya, pemilik photoboot segera menawarkan jasa fotonya. Melihat budget yang tak banyak di kantong, kami segera menolak.

 

IMG-20170818-WA0023
foto sebelum upacara api unggun

Usai dari sana, tak lupa pula untuk berfoto dengan adik-adik yang telah bersiap menikmati api unggun malam itu. Ya, mereka amat bersemangat. Beberapa guru yang sedang mengunjungi juga tak mau ketinggalan.

Api unggun, selalu menyisakan kenangan. Tak ingin terlewatkan satu potret-pun disana. Di tengah aktifitas kami bertiga, tiba-tiba ada yang datang. Mengajak foto. “wah…apa ini maksudnya?” ucap Takul. “modus” batinku. But it’s ok. Toh nggak akan terjadi apa-apa dengan Naili yang rupanya menjadi sasaran empuk.

Tidak bisa dipungkiri, ada sejuta cerita saat itu. Sejuta keseruan dengan anak-anak dan tim ini. Juga dengan panitia kecil yang mau menjamu malam-malam dan nongkrong sambil berbincang ringan. Makin akrab saja.

AKHIR DAN MOTIVASI

Shubuh. Anak-anak yang lelah akibat tidur malam itu harus dibangunkan untuk berangkat ke homestay dan menunaikan sholat Shubuh. Hari terakhir menjadi saat yang ditunggu ketika pengumuman kejuaraan dilantunkan. Berkat hasil musyawarah semalam, sudah diputuskan siapa-siapa yang akan menjadi juara. Harapan terbesar saat itu adalah kegiatan ini dapat memotivasi seluruh peserta, terutama dari tingkat penggalang agar terus berpacu mengembangkan potensi mereka. Serta membuka wawasan dengan menunjukkan gugus depan lain yang telah meraih beragam prestasi dalam kepramukaan.

Tak hanya anak-anaknya saja yang terbuka wawasannya. Pembina juga harus mau belajar kepada pembina lain yang lebih berpengalaman dalam membawa gugus depannya untuk meraih beragam prestasi membanggakan. Satu hal yang menjadi point penting, yakni pengembangan moral sebagai tujuan utama latihan kepramukaan.

Sabtu, 12 Agustus 2017

Andalan

Gelap Tiba-tiba

Terpisah,
namun ada nanah di balik sekat
biru, bukan karena haru
namun sesak menyumbat dada

bagaimana sesal tak rekah,
bila di satu sisi tiba-tiba gelap
gelap, terhalang bayangan yang tak lain adalah alasan sendiri
dan sejurus melambung tinggi bagai angan
jauh, hingga tak sebersit-pun terfikir

Untung saja tersadar di tengah bualan kecil
karena ada hal kecil di balik tabir hati
‘bagaimana kau tau’
jendela, penebar tawa, penghantar tangis, hingga pelampiasan rindu
hingga pernyataan singkat tersurat
jelas
sudah

jelas pula hanya bungkam,
karena tak berarti
teruskan…

Andalan

Tanya Bergelayut

Terpaku pada torehan tinta di atas selembar kayu berlumur banyu

Termangu, kerana telah usang dan terdiam bisu di balik jendela

Kulihat di balik kayu berlumur banyu itu, pun terpasang jendela

Bahkan hingga ke negeri nona-nona yang berkincir rumahnya

Ah, menilik setiap pembicaraan

Mengundang hasrat tuk tahu gerangan di balik tiap tutur

Hingga kubuka tirai itu, lalu lekas pasang telinga

Telinga tuk baca tiap kata

Oh rupanya dia, gerangan yang bersembunyi di balik tirai

Lalu pergi melintasi seluruh isi bumi sembari membawa tanya

Tanya untuk oleh-oleh negeri

Nyatanya tiap langkahnya berarti

Sembari memotret tiap sudut terdalam dari sekecil-pun permasalahan

Tak sekedar tanya, namun potret keingintahuan

 

Lihatlah sepatu itu, setia temani kaki melintasi oase dan tanah bersalju

Serta lensa hitam dan selembar kain panjang melingkar

Sembari menatap langit, yakinkan diri telah ada penantian akan setiap cerita

Cerita dari tanya yang telah lama bergelayut

Accepted Proposal

Kurang tepat apabila menyebut kegiatanku melatih kepramukaan di sekolah sebagai pekerjaan. Namun ini cukup membuatku bangga meski sama sekali jauh dari angan-angan dan bidang yang sedang kudalami saat ini. Usai mengundurkan diri dari SMP PGRI 1 Dau aku tetap lanjut di SMPN 1 Dau dengan tim yang sama, yaitu Miftakhul Asy’ari, kolegaku sejak sekolah di Madrasah Aliyah. Namun kali ini kami bekerja bertiga dengan seorang guru baru yang mengajar Pendidikan IPS, fresh graduate dari kampus tempat aku belajar yakni Universitas Negeri Malang. Beliau biasa dipanggil Bu Ninis. Meski pengalamannya dalam kepramukaan nol, namun kedewasaan dan posisi di sekolah cukup untuk membuatnya mampu menjadi konektor dengan ketua pengelola ekstrakurikuler.
Dalam mengelola salah satu ekstrakurikuler tentu ingin memberikan terobosan, meskipun hanya terobosan sederhana. Tak lain adalah program maupun kegiatan baru. Aku bersama tim berusaha lobbying dan mengkonsep secara detail mengenai kegiatan perkemahan akhir semester. Ternyata hal ini cukup mengejutkan bagi sekolah. Namun ini tak menjadi masalah besar. Dengan latar belakangku dan Miftakhul yang sempat beberapa kali membantu pelaksanaan pelantikan penggalang maupun penegak, kami mengajukan usul untuk mengadakan pelantikan pramuka penggalang.
Kegiatan harus disetujui, jadi tim harus bekerja keras untuk menciptakan konsep yang detail dan meyakinkan. Dua minggu sebelum pelaksanaan, proposal telah mendapat acc. Kabar ini segera disampaikan kepada Dewan Penggalang yang sedang menjabat. Spontan mereka berteriak kegirangan. Kami tak ingin menghentikan ekspresi bahagia mereka. Saat itu, sekali lagi aku merasakan hal yang sangat kontras dengan kondisi ketiika aku menjabat sebagai dewan penggalang 6 tahun yang lalu. Kegiatan semacam outbond, jelajah, dan pelantikan seakan menjadi hal yang biasa dan mampu diatasi secara mandiri oleh dewan penggalang (DG). Pembina hanya mengontrol dan memastikan bahwa kegiatan yang hendak dilaksanakan telah dipersiapkan dengan baik. Namun pikirku mengira bahwa ada vakum yang cukup lama sehingga semua harus dimulai dari nol.
Semangat dewan penggalang dan peserta tak terkira, sehingga membuat kegiatan terlaksana dengan baik. Ketua pengelola ekstrakurikuler hadir dengan seragam pramuka lengkap yang terlihat apik. Beliau merupakan perwakil dari kepala sekolah selaku kamabigus yang berwenang melantik dan sedang berhalangan hadir. Pujian dan rasa bangga berkali-kali beliau lontarkan baik saat amanat ketika upacara maupun saat berbincang santai. Moment luar biasa itu berkali-kali diabadikan oleh dewan penggalang yang bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan maupun oleh beberapa guru yang ikut hadir.

Delivery Order Fihi ma Fihi

“Dalam suatu kesempatan aku mencoba berbicara dengan seorang pengkaji Al Qur’an, ‘Tuhan telah berfirman dalam Al Qur’an, katakanlah, apabila lautan adalah tinta untuk menulis ayat-ayat Allah, sesungguhnya laut takkan cukup menuliskan ayat-ayat Allah.’ Namun dengan lima puluh dram tinta, orang sekarang mungkin bisa menulis seluruh isi al Qur’an. Itu karena sesungguhnya Al Qur’an hanyalah sekedar perlambang dari pengetahuan Tuhan, bukan keseluruhan dari Pengetahuan-Nya. Apabila tukang obat meletakkan sejumput obat pada selembar kertas, akankah engkau sedemikian bodoh mengatakan seluruh toko obat itu berada dalam kertas itu”
Karya penyair agung, salah satu sufi terbesar dalam Islam, Jalaluddin Rumi dalam terjemahan kitab Fihi Ma Fihi. Secuil syair yang tertulis dalam buku yang hendak kuhantarkan.
DITEMANI KAWAN LAMA
Percayalah bahwa hari itu, sangat panas. Panas yang kumaksud bukan bermakna konotatif, melainkan denotatif. Saking panasnya, orang yang menjadi kawanku sejak balita ini mengajak untuk membeli Aice, yakni produk es krim yang harganya terbilang murah saat ini.
“ayo tumbas Aice ae, karo ngenteni” ucapnya di ujung gang dengan bahasa Jawa. Artinya “ayo beli Aice dulu, sambil nunggu” Aku segera meng-iyakan, karena nyatanya aku juga amat kehausan.
Panggil saja ia Nara. Sedari kecil siapa-pun memanggilnya Nara, kecuali orang-orang yang terbilang spesial di hidupnya. Ada yang memanggil dengan tambahan “Neng” di depannya, “Neng Nara”. Juga “mbem” yang entah apa arti dan filosofi panggilan itu. Pada intinya aku sebagai sahabatnya sejak balita selalu memanggil dirinya dengan nama asli yang diberikan sejak bayi oleh orang tuanya. “Nara”.
Aku dan gadis cantik itu dari rumah seorang teman yang bernama Laila dengan maksud untuk mengantarkan buku pesanannya yang berjudul “Fihi ma Fihi”. Sebelumnya sudah janji untuk mengantar buku itu ke rumah saja. Namun setelah tiba di depan rumahnya, ia mengirim pesan via Whats App yang berisi
“twint, nanti langsung ketemu di kampus aja ya, aku lagi siap-siap”.
Dikirim sejak jam setengan 1, sedangkan saat itu sudah jam 1. Akhirnya aku dan sahabat baikku itu kembali menuju kampus Laila. Untunglah tempatnya sejalur dengan jalan pulang, sehingga tak perlu berputar-putar lagi. Cukup menghubungi lalu menunggu.
WARUNG CILOK DAN ES GUDIR
“ ayo nunggu di sana aja, sambil beli es sama cilok” ajak teman cantikku itu. Pada ujungnya tak jadi membeli Aice, melainkan es gudir dari warung pingguir jalan. Aku yang sedari tadi merasakan haus langsung mengiyakan tanpa syarat.
“buk, beli cilok 5000 dua, sama es-nya dua” ucap Nara pada sang penjual.
“dimakan sini mbak?” ucap mbak penjual.
“iya”
Cilok. Tentu jenis makanan ini sudah tak asing lagi, karena di beberapa daerah di Indonesia sudah bercecer penjual cilok. . Entah darimana makanan ini berasal dan siapa penciptanya. Makanan ini cukup menjadi favorit kebanyakan orang karena rasanya nyaman di lidah. Sedangkan es gudir, mungkin masih asing untuk beberapa orang. Begitu pula dengan yang kualami saat tiba di depan warung ini. namun istilah “gudir” bagi orang Blitar bermakna “agar-agar”. Dalam pikiranku sudah terbayang bahwa minuman itu berisi agar-agar. Ternyata benar, namun ada tambahan bahan-bahan lain yang biasa ada dalam es campur.
Aku dan Nara duduk di kursi yang sudah disediakan disana. Cuap-cuap dengan obrolan kecil sambil menunggu balasan sms dari sang peng-order buku, karena sedari tadi ditelefon-pun di-reject. Mungkin ia masih sibuk untuk bergegas ke kampus. Beberapa mahasiswa berlalu lalang. Mereka semua memakai jas almamater, karena hari itu yang datang ke kampus sedang menyiapkan mental masing-masing untuk menghadapi ujian.
Tak terasa cilok seharga 5000 dan segelas es gudir telah habis. Namun, orang yang ditunggu tak juga terlihat batang hidungnya. Tiba-tiba Nara menunjuk-nunjuk seberang gerbang sambil berkata “mbak Laila sudah datang, itu mobil ayahnya”. Segera, usai membayar, kami bergegas menuju ke dalam kampus. Sesampainya disana tak sengaja bertemu dengan Nurul. Yakni teman sekelas sejak di Madrasah Aliyah. Seperti biasa, ia menyapa dengan segala kehebohan dan keceriaannya. Aku hanya bisa tertawa dan menyambutnya dengan salaman dan obrolan kecil. Aku dan Nara menyampaikan maksud untuk mencari Laila. Tak lama kemudian yang dicari malah menghubungi via telefon.
“ twint, aku udah di depan kampus”
“alah, di depan kampus apa. Orang di bakul cilok” ucapnya sambil tertawa.
Tak genap 1 menit anak itu sudah terlihat keluar dari kelas. Juga mbak Nafis yang baru saja datang, segera kami sapa. Ia adalah pendamping sejak aku dan Nara di pesantren dulu. Tak lupa untuk bersalaman dan cipika-cipiki sedikit layaknya teman yang telah lama tak bertemu. Disana, aku menumpahkan segala kerinduan pada kawan yang menurut pendapat Pak Teguh, guru Bahasa Inggris, kami kembar. Aku selalu tertawa ketika mengingat hal itu, kecuali saat aku menulis ini. Karena apabila aku tertawa maka adikku yang sedang asyik menonton Tom and Jerry mungkin akan bertanya “mbak, sehat?”. Tapi berkat Pak Teguh aku bisa berteman dekat dengan orang unik ini, dan merasa kami adalah kembaran.
Segala kerinduan tertumpah dengan canda dan perbincangan ala kadarnya, juga sedikit komentar pada diri satu sama lain. Tentu ada keinginan untuk saling mengunjungi. Laila mencurahkan hal itu. Tentu aku akan menunggu kedatangannya, asal di luar jam kuliah. Tak lupa, sebagai anak muda yang memanfaatkan teknologi, kami mengabadikan pertemuan itu lewat foto. Hal ini sudah biasa bukan? Aku dan Nara juga memberikan semangat untuk sahabat yang akan menghadapi ujian hari itu.
Sejenak saja melepas rindu, kami berpamitan. Juga kepada Nurul dan mbak Nafis yang sedang berada di dekat pintu gerbang bersama teman-temannya yang lain.
PARKIR GRATIS DEPAN TOKO BAJU
Sebelum memutuskan untuk beristirahat sambil makan cilok di warung, aku dan Nara sempat melihat-lihat baju di toko seberang kampus. Sekalian numpang parkir motor disana hingga aku dan Nara selesai menemui orang yang dicari. Usai sudah memberikan buku ke tangan yang menginginkannya, juga sudah berpamitan. Namun hasrat untuk melihat-lihat baju muncul kembali. Akhirnya kami kembali lagi kesana. Tak ada pembeli lain, mungkin karena saat itu matahari seakan siap membakar ubun-ubun sehingga jarang sekali orang minat untuk keluar rumah sekedar memilih baju. Pelayan toko disana rupanya juga menyadari bahwa aku dan Nara sudah bolak-balik ke toko itu. Merasa tak enak, untunglah Nara segera menemukan baju yang disukainya usai bingung memilih beberapa kali. Beberapa kali pula ia meminta ke pelayan toko untuk menurunkan baju yang dipajang di atas. Usai sudah, ia membayar sebuah baju berwarna tosca dan siap menentengnya pulang.